Rabu, 12 April 2017

Aku yang lain

Kamu percaya?

Bahwa di dalam jiwaku, terdapat aku yang lain
Aku yang juga mempunyai sifat seperti kalian
Aku yang selalu bertentangan dengan sifat asliku

Aku percaya

Bahwa aku tumbuh bersama aku yang lain
Aku yang lebih berkembang secara ego
Aku yang selalu bertindak lebih banyak dari berpikir

Aku tidak mengingkari keberadaan aku yang lain
Aku bahkan tidak terlalu menikmati hadirnya aku yang lain

Bagiku, sudah cukup mengetahui bahwa aku yang lain pun hidup
Karena aku dan aku yang lain sudah mempunyai porsi masing masing

Walau aku pernah mengendalikan aku yang lain
Bukan berarti aku selalu ingin mengandalkan aku yang lain
Aku cukup mengerti bahwa keberadaan aku yang lain hanya untuk menutupi sesuatu yang dianggap "mustahil"

Senin, 20 Maret 2017

Teruntuk Kamu

Kalimat apapun yang terurai, biarkanlah
Kau yang tak pernah tahu kehadiranku
Kau yang tak pernah tahu keadaanku
Kau membuat hidupku seakan lebih berwarna
Bukan karena hidupku sebelumnya tak bahagia
Hanya saja dengan adanya kau, mereka semua terasa lebih hidup

Aku bukan seseorang yang penuh akan kata
Aku bukan seseorang yang penuh dengan cinta
Aku bukan seseorang yang selalu hadirkan tawa
Aku bukan seseorang yang sering terluka
Aku pun bukan seseorang yang teramat selalu bahagia

Bagiku, tanpa orang lain tahu
Diriku sendiri sudah cukup untuk membuat hariku selalu bersyukur
Dan kau, yang tidak selalu kupuja
Kau yang tidak menempati seluruh ruang kosongku
Kau yang ku tahu tak mengenal diriku

Kata yang seakan aku telah jatuh untukmu
Telah binasa akan pesona yang kau tuai
Hancur dengan rasa yang tumbuh bercabang

Aku tak mengingkari jika kelak nanti kau menghilang
Hembusan angin yang membawamu pergi entah kemana
Angin yang tak ku kenal

Aku pun tak berharap akan ada hari indah satu saat nanti
Pertemuan yang hanya akan membuat bodoh
Sekalipun hanya embun pagi yang melihat
Atau sinar terik yang menyaksikan
Bahkan malam gulita yang terlibat

Seuntai kata teruntuk mu
Atau sebait kalimat yang tertulis
Takkan pernah mampu mengganti segala apa yang melekat dalam dirimu

Kucoba untuk melawan takdir
Tapi bahkan untuk mengendalikan pun aku tak mampu


Aku yang teramat sibuk memperhatikanmu

Selasa, 14 Februari 2017

Yang Tertutup Rapat

Bisakah kau melihatku

Tidak
Kau tidak akan pernah bisa melihatku
Melihatku secara keseluruhan
Melihatku secara kasat mata ataupun tak kasat mata
Melihatku dengan hatimu

Semua kemungkinan itu terjadi karena memang kau tidak pernah memberikan hatimu sedikitpun
Hatimu terkunci untukku bisa memasukinya
Hatimu tertahan saat ku mencoba mengambilnya
Hatimu terbingkai rapi dalam angan yang tak pernah tergapai olehku

Kau tidak akan pernah bisa melihatku
Melihat semua rasa tulusku
Melihat semua tangisku
Melihat semua tawaku
Melihat semua yang kulakukan untukmu

Hatimu terkubur jauh dalam sanubarimu
Tak pernah sedikitpun bisa ku sentuh
Karena kau selalu menjaganya agar tetap menjauh dari jangkauanku

Hatimu tertutup rapat
Layaknya sebuah sumur dalam hutan yang mempunyai kedalaman beribu meter di dalamnya
Jauh
Terlalu jauh untuk bisa ku miliki

Karena itu kau tak akan pernah bisa melihatku
Tak bisa melihat semua perasaan teramat tulus yang kuberi padamu
Tak bisa
Tak akan pernah bisa-




15/5/16

Selasa, 24 Januari 2017

Ini hanya masalah Waktu

Bagaimana perasaan kamu, saat kamu tahu kekasihmu tidak mencintaimu seperti yang selalu kamu bayangkan selama ini

Bahwa ternyata dia hanya mencintai sahabatnya
Dan kamu hanya sebagai topeng untuk menutupi perasaannya
Kamu hanya sebagai penutup rasa sedihnya

Dia yang kamu cinta
Dia juga yang mencintai sahabatnya
Dia yang selalu mengungkapkan perasaannya terhadap sahabatnya
Dia juga yang bahkan tidak pernah mengucap sekata pun tentang cinta

Sabtu, 07 Januari 2017

Pelangi

Kesendirian membuatku merasa tidak nyaman menjadi diriku sendiri. Taman ini yang selalu mendampingi kesendirian ku. Aku merindukan seorang Bunda. Bunda yang selalu ingin menemaniku kemanapun aku pergi. Hujan sudah reda, menandakan aku harus berhenti untuk menangisi kepergian Bunda yang telah tiada.

                Pelangi, suatu hal yang akan selalu aku lihat di taman ini. Tetapi, aku bosan melihat pelangi tanpa ditemani seorang pun disampingku. Aku ingin Ayah menemani saat-saat seperti ini. Saat aku melihat pelangi yang diciptakan oleh Tuhan dengan indahnya.

                “Ayah, maukah ayah menemaniku melihat pelangi sore ini?”, kataku. “Maaf sayang, ayah sibuk, ayah harus menyelesaikan pekerjaan kantor. Lain kali saja ya sayang”, jawab Ayah. Jawaban seperti itu sudah seringkali Ayah katakan. Aku benci Ayah yang sekarang. Aku menginginkan sifat Ayah yang dulu, Ayah yang selalu sayang denganku. Ayah yang tidak pernah mengecewakan ku dalam situasi apa pun. Sekarang, Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Sore ini, aku sangat ingin sekali mengajak Ayahku untuk melihat pelangi. Bahkan aku tak peduli akan jawaban Ayah. Mungkin karena keinginan ku yang begitu besar. “Ayolah Ayah, sekali ini saja temani aku untuk melihat pelangi!” kataku. Ayah menjawab, “Ayah ada rapat sore ini, jadi tolong kamu jangan ganggu ayah!”. Aku mengatakan, “Tapi yah, pelanginya sangat bagus. Apakah ayah tidak mau melihatnya?”. “Tidak ayah sibuk!” jawab Ayah. Mendengar jawaban Ayah yang kasar, aku sangat kaget. Apakah Ayah sangat sibuk sekali, sampai Ayah terlihat begitu kesal denganku.

Aku menangis di dalam kamar hingga mataku yang biasanya cerah, kini terlihat sangat merah. Aku tidak menyangka akan jawaban Ayah. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku. “Maafkan Ayah sayang, Ayah janji tidak akan membentakmu lagi”, kata Ayah. Tapi aku tetap menangis, aku tidak peduli dengan perkataan Ayah.

Sampai akhirnya, Ayah mengatakan “Baiklah, sekarang apa yang kamu inginkan dari Ayah, agar kamu tidak menangis lagi? Apa yang kamu inginkan akan Ayah turuti untuk menebus kesibukan Ayah selama ini”. Aku sangat senang mendengar pernyataan Ayah dan aku bertanya “Benar, Ayah akan menuruti permintaanku?”. “Iya sayang Ayah janji”, jawab Ayah. “Maukah Ayah menemaniku untuk melihat pelangi di taman?” tanyaku. Ayah menjawab “Baiklah kalau itu yang kamu mau. Kita akan pergi ke taman. Tapi sebelumnya hapus air matamu dulu”.

Akhirnya aku dan Ayah pergi ke taman untuk melihat pelangi. Taman ini lebih indah, dari pada aku datang tanpa ditemani siapa pun. Walaupun taman ini basah, karena sebelumnya telah diguyur oleh hujan. Kejadian ini sangat mengesankan dalam hidupku.



Pernah di Post-kan sebelumnya dalam Buletin YPC3 Eds.1 Th. 2013