Kesendirian membuatku merasa
tidak nyaman menjadi diriku sendiri. Taman ini yang selalu mendampingi
kesendirian ku. Aku merindukan seorang Bunda. Bunda yang selalu ingin
menemaniku kemanapun aku pergi. Hujan sudah reda, menandakan aku harus berhenti
untuk menangisi kepergian Bunda yang telah tiada.
Pelangi,
suatu hal yang akan selalu aku lihat di taman ini. Tetapi, aku bosan melihat
pelangi tanpa ditemani seorang pun disampingku. Aku ingin Ayah menemani
saat-saat seperti ini. Saat aku melihat pelangi yang diciptakan oleh Tuhan
dengan indahnya.
“Ayah,
maukah ayah menemaniku melihat pelangi sore ini?”, kataku. “Maaf sayang, ayah
sibuk, ayah harus menyelesaikan pekerjaan kantor. Lain kali saja ya sayang”,
jawab Ayah. Jawaban seperti itu sudah seringkali Ayah katakan. Aku benci Ayah
yang sekarang. Aku menginginkan sifat Ayah yang dulu, Ayah yang selalu sayang
denganku. Ayah yang tidak pernah mengecewakan ku dalam situasi apa pun.
Sekarang, Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Sore ini, aku sangat ingin sekali
mengajak Ayahku untuk melihat pelangi. Bahkan aku tak peduli akan jawaban Ayah.
Mungkin karena keinginan ku yang begitu besar. “Ayolah Ayah, sekali ini saja
temani aku untuk melihat pelangi!” kataku. Ayah menjawab, “Ayah ada rapat sore
ini, jadi tolong kamu jangan ganggu ayah!”. Aku mengatakan, “Tapi yah,
pelanginya sangat bagus. Apakah ayah tidak mau melihatnya?”. “Tidak ayah
sibuk!” jawab Ayah. Mendengar jawaban Ayah yang kasar, aku sangat kaget. Apakah
Ayah sangat sibuk sekali, sampai Ayah terlihat begitu kesal denganku.
Aku menangis di dalam kamar
hingga mataku yang biasanya cerah, kini terlihat sangat merah. Aku tidak
menyangka akan jawaban Ayah. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam
kamarku. “Maafkan Ayah sayang, Ayah janji tidak akan membentakmu lagi”, kata
Ayah. Tapi aku tetap menangis, aku tidak peduli dengan perkataan Ayah.
Sampai akhirnya, Ayah mengatakan
“Baiklah, sekarang apa yang kamu inginkan dari Ayah, agar kamu tidak menangis
lagi? Apa yang kamu inginkan akan Ayah turuti untuk menebus kesibukan Ayah
selama ini”. Aku sangat senang mendengar pernyataan Ayah dan aku bertanya
“Benar, Ayah akan menuruti permintaanku?”. “Iya sayang Ayah janji”, jawab Ayah.
“Maukah Ayah menemaniku untuk melihat pelangi di taman?” tanyaku. Ayah menjawab
“Baiklah kalau itu yang kamu mau. Kita akan pergi ke taman. Tapi sebelumnya
hapus air matamu dulu”.
Akhirnya aku dan Ayah pergi ke
taman untuk melihat pelangi. Taman ini lebih indah, dari pada aku datang tanpa
ditemani siapa pun. Walaupun taman ini basah, karena sebelumnya telah diguyur
oleh hujan. Kejadian ini sangat mengesankan dalam hidupku.
Pernah di Post-kan sebelumnya dalam Buletin YPC3 Eds.1 Th. 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar