Sabtu, 07 Januari 2017

Pelangi

Kesendirian membuatku merasa tidak nyaman menjadi diriku sendiri. Taman ini yang selalu mendampingi kesendirian ku. Aku merindukan seorang Bunda. Bunda yang selalu ingin menemaniku kemanapun aku pergi. Hujan sudah reda, menandakan aku harus berhenti untuk menangisi kepergian Bunda yang telah tiada.

                Pelangi, suatu hal yang akan selalu aku lihat di taman ini. Tetapi, aku bosan melihat pelangi tanpa ditemani seorang pun disampingku. Aku ingin Ayah menemani saat-saat seperti ini. Saat aku melihat pelangi yang diciptakan oleh Tuhan dengan indahnya.

                “Ayah, maukah ayah menemaniku melihat pelangi sore ini?”, kataku. “Maaf sayang, ayah sibuk, ayah harus menyelesaikan pekerjaan kantor. Lain kali saja ya sayang”, jawab Ayah. Jawaban seperti itu sudah seringkali Ayah katakan. Aku benci Ayah yang sekarang. Aku menginginkan sifat Ayah yang dulu, Ayah yang selalu sayang denganku. Ayah yang tidak pernah mengecewakan ku dalam situasi apa pun. Sekarang, Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Sore ini, aku sangat ingin sekali mengajak Ayahku untuk melihat pelangi. Bahkan aku tak peduli akan jawaban Ayah. Mungkin karena keinginan ku yang begitu besar. “Ayolah Ayah, sekali ini saja temani aku untuk melihat pelangi!” kataku. Ayah menjawab, “Ayah ada rapat sore ini, jadi tolong kamu jangan ganggu ayah!”. Aku mengatakan, “Tapi yah, pelanginya sangat bagus. Apakah ayah tidak mau melihatnya?”. “Tidak ayah sibuk!” jawab Ayah. Mendengar jawaban Ayah yang kasar, aku sangat kaget. Apakah Ayah sangat sibuk sekali, sampai Ayah terlihat begitu kesal denganku.

Aku menangis di dalam kamar hingga mataku yang biasanya cerah, kini terlihat sangat merah. Aku tidak menyangka akan jawaban Ayah. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku. “Maafkan Ayah sayang, Ayah janji tidak akan membentakmu lagi”, kata Ayah. Tapi aku tetap menangis, aku tidak peduli dengan perkataan Ayah.

Sampai akhirnya, Ayah mengatakan “Baiklah, sekarang apa yang kamu inginkan dari Ayah, agar kamu tidak menangis lagi? Apa yang kamu inginkan akan Ayah turuti untuk menebus kesibukan Ayah selama ini”. Aku sangat senang mendengar pernyataan Ayah dan aku bertanya “Benar, Ayah akan menuruti permintaanku?”. “Iya sayang Ayah janji”, jawab Ayah. “Maukah Ayah menemaniku untuk melihat pelangi di taman?” tanyaku. Ayah menjawab “Baiklah kalau itu yang kamu mau. Kita akan pergi ke taman. Tapi sebelumnya hapus air matamu dulu”.

Akhirnya aku dan Ayah pergi ke taman untuk melihat pelangi. Taman ini lebih indah, dari pada aku datang tanpa ditemani siapa pun. Walaupun taman ini basah, karena sebelumnya telah diguyur oleh hujan. Kejadian ini sangat mengesankan dalam hidupku.



Pernah di Post-kan sebelumnya dalam Buletin YPC3 Eds.1 Th. 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar